Nening S Mahendra
Apa Bedanya?
Tuan dan Nyonya Belanda beserta sinyo dan noni
Duduk di teras rumah ditemani kue-kue dan teh atau kopi
Mereka tertawa gembira menonton hiburan yang penuh atraksi
Inlander coklat atau hitam berjuang memanjat pohon yang licin
Di tubuh yang mengkilap hanya ada cawat lusuh
Pinggangnya yang ramping dan perutnya yang melengkung diikat tali goni
Keluarga Belanda sangat menikmati
Seni rebutan hadiah di atas langit
Inlander penuh nafsu
Menginjak kepala atau pundak
Tangan menggapai-gapai
Di atas sana ada kue atau makanan
Atau apa sajalah!
Yang pasti di rumah mereka tak ada!
Apabila salah seorang dari mereka hampir berhasil
Sering terjadi semuanya melorot ke bawah lagi
Licin! Licin sekali
Yang dibawah sudah tak kuat lagi!
Jatuhlah para inlander ke atas bumi
Tuan dan Nyonya Belanda
Para sinyo dan noni
Tertawa terbahak-bahak dan besorak
Lebih sering terjadi
Semua hadiah di atas langit
Utuh sampai pagi
Karena para inlander menyerah
Meraka sangat lapar!
Tak ada tenaga lagi!
Keluara Belanda sebenarnya kecewa
Hadiah siapa yang punya!
Tapi di situlah seninya
Orang saling menginjak dan menyingkirkan
Untuk mendapatkan sekadar makanan
Hari ini
Tidak ada lagi Tuan dan Nyonya Belanda
Tak ada sinyo dan noni
Mereka sudah berganti gaya!
Ganti Bangsa Sendiri!
Tuan dan Nyonya yang Terhormat
Anak-anak mereka juga terhormat
Mereka duduk sambil ngeteh atau ngopi
Ditemani kue dan semua makanan
Menonton pertunjukkan rakyat
Yang penuh dengan nuansa seni
Seni kepala pindah menjadi kaki
Kaki menjadi Kepala
Jumpalitan mencari loker
Hutang sana sini, lari ke pinjol
Dan melakukan kriminal kecil
Demi kasih makan anak istri
Kekayaan alam negeri ini
Tak lagi dibawa oleh Tuan Belanda
Tapi diambil oleh Bangsa Sendiri
Oleh Tuan dan Nyonya yang Terhormat
Dan anak-anak mereka
Dulu...
Tuan Belanda tidak suka inlander cerewet! Tak suka inlander pandai!
Gampang saja. Tembak mati!
Jadi... Apa bedanya?
Sekarang dengan jaman dulu?
Tidak ada!
Tidak ada!
Sama!
Hanya beda nama
Belanda dan Bangsa Sendiri
Pangkah, 16/08/2026
Nening Sofiah lahir di Purbalingga, 1954. Menulis sejak tahun 1970. Dimuat di koran, majalah, buletin, tabloid berupa fiksi non fiksi dan faksi.
Punya 6 buku solo (ISBN); 2 buku solo non ISBN dan 60-an buku antologi multi genre.
Anggota FLP Cabang Tegal dan beberapa komunitas kepenulisan.
*Profilnya dimuat dalam buku
- Pengarang dan Penulis Perempuan Indonesia, Tahun 2024, Kosa Kata Kita
- Jejak Langkah Penyair Muda Tahun 1970-an, Tahun 2024, Kosa Kata Kita.
Tinggal di RT 005/007 Desa Pangkah Kab. Tegal.*