Bambang Widiatmoko
NEGERI LUKA
Siang menyambut kedatanganku dengan rasa gagap
Menaiki tangga dari tempat parkir kedatangan
yang terasa dingin dan sunyi
Terkagum ketika melihat hamparan lautan di atasnya
Bergumam dalam hati:
“Inilah negara kecil di bawah permukaan air laut
Namun mampu menjajah tanah air sekian ratus tahun lamanya?”
Berkedok dagang dengan bendera VOC
Lalu menciptakan lomba panjat pinang
Dengan hadiah bergelantungan di atasnya
Menertawakan kemiskinan dan kebodohan pribumi
Ratu Wilhelmina pun tertawa dan menyibakkan gerai rambutnya
Menyaksikan yang berlomba memanjat batang pinang
untuk mencoba meraih hadiahnya
Menertawakan tubuh tubuh yang melorot dan bertindihan
Tersebab batang pinang telah dilumuri pelican
Tertawa sinis yang kurasakan bekasnya hingga kini.
Negara di bawah permukaan air laut
Membanjiri dengan penderitaan sepanjang abad
Dalam catatan risalah dan sejarah yang luka.
Lalu mengapa kita mewarisi tradisi lomba panjat pinang
Setiap memperingati hari kemerdekaan
Meski telah berganti sebagai simbol bentuk kerjasama perjuangan
Dengan kerumunan penonton yang riuh rendah menertawakan
Yang jatuh bertumbangan daripada keberhasilan meraih kemenangan?
Gunung Putri, 8 Agustus 2026
Bambang Widiatmoko *adalah penyair kelahiran Yogyakarta yang kini menetap di Bogor. Kumpulan puisinya Tetaplah Tidur Mendengkur terpilih masuk 10 besar buku puisi pilihan Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia. Puisinya terhimpun dalam antologi puisi bersama al. Republik Puitik (2025), Kariyau Hutan (2025), Share (2025), Kitab Omon Omon (2025), Empat Belas Purnama (2025), Zamrud (2025), Layang-Layang Tak Memilih Tangan (2025), Semesta Ingatan (2025), Menjaring Tanah Menghapus Resah (2025), Ramu Ramu Warteg (2026), Mozaik (2026). Ikut menulis esai di buku al. Nyanyi Sunyi Tradisi Lisan (ATL, 2021), Esai dan Kritik Sastra NTT (KKK, 2021), Mencecap Tanda Mendedah Makna (FIB UI, 2021), Sastra, Pariwisata, Lokalitas (HISKI Bali, 2021), Antologi Kritik Sastra dan Esai (KKK. 2021), Jalan Sastra Lampung (DKL, 2022). Di Antara Gudang, Rumah Tua, pada Cerita (Gramedia, 2022), Oase di (Tepian) Kota (2023). Tribut Untuk Prof. Dr. Edi Sedyawati, Dari Ganesa Sampai Tari (Jakarta: BWCF, 2024). *